Wednesday, 29 November 2017

Makan Banyak Jadi Kurus?

Hi folks, disini aku mau bahas lika-liku perjalanan diet yang cukup menyesakkan. Sebenarnya sih, kalau mau dihitung menurut standar body mass index (bmi) berat aku ini masih termasuk ideal. Malah seumur umur sepanjang ingatan, aku ngga pernah masuk kategori ‘overweight’ dalam index. Tapi ya tetep aja yang namanya cewek kebanyakan kaya aku ini, ‘rumput tetangga selalu lebih hijau’ alias nggak pernah puas sama diri sendiri. Kayak kambing aja ngilerin rumput tetangga. Tapi kan ya kalau berpuas diri, kita nggak akan pernah berkembang jadi lebih baik lagi sebagai manusia dong yakan? (iyain aja plis😩).

Aku udah sering berusaha mencintai diri sendiri dan berat badanku yang ideal menurut kata bmi ini, tapi apalah daya, tiap liat Miranda Kerr di instagram, kayanya selalu terbayang gimana seksinya diri ini kalau jadi selangsing beliau.

Miranda Kerr
tante Miranda

Bisa hemat beberapa sentimeter kalau mau jahit baju. Dan ngga ribet tiap kali mau shopping harus ngepas sana sini, tinggal comot baju yang di manekin juga jadi. Jadilah aku ini mencoba segala macam diet yang memungkinkan hanya demi mengurangi beberapa belaskilogram dan beberapa centi lingkar seluruh tubuh.
Semasa awal kuliah menurut aku, adalah saat yang paling tepat buat memulai diet.  Di tahun tahun pertama aku jauh dari rumah dan berkuliah di Jogjakarta, aku menurunkan banyak berat (yang saat itu aku belum mengenal Miranda Kerr dan belum ngikutin akun instagram angelsnya Victorias Secret) dengan nggak sadar karena stress, kesibukan kuliah, kegiatan luar kuliah, dan shock akan perbedaan makanan Jawa yang manis manis. Sejalannya waktu, aku mulai beradaptasi, dan mulai lagi jadi petualang makanan. Daerah sekitar kampus semakin lama semakin dipenuhi banyak restoran dan kafe, ind*maret, alf*maret, dan maret maret lainnya mulai semakin dekat dalam jangkauan dari daerah kos kosan yang memudahkan aku jajan setiap saat. Belum lagi biasanya banyak penjual penjual cemilan seperti bakso tusuk, crepes, nasi jamur, seblak, keripik, yang bertengger di depan maret maret tersebut.
Sampai pada suatu hari (jeng jeng jeng), aku yang lagi bersih bersih lemari pakaian, menemukan jeans lama favorit aku yang entah bagaimana terselundup di bagian bawah pojok lemari, tersembunyi di antara banyaknya barang barang yang sudah jarang aku pakai, tas tas, jaket, dan kantong kantong belanjaan yang belum sempat dibuka. Dengan bahagia aku mencoba memakai kembali jeans kesayangan tersebut dan taraaa.. Jeans nya nggak masuk! Bukan sekedar ngga terkunci, tapi bener bener gak masuk, nggak bisa ditarik keatas, nggak bisa dipakai! Dengan kecewa kulepas jeans itu. Saat itu juga aku sadar, sambil menatap nanar bayanganku sendiri didepan cermin, bahwa aku bukanlah aku yang dahulu. Sebelum itu, aku nggak pernah berfikir untuk diet, nggak pernah peduli bagaimana bentuk badanku, bagaimana penampilanku. Setelah insiden jeans itu, aku sadar bahwa menjaga penampilan itu penting. Bukan cuma demi kenyamanan mata orang lain yang memandang, tapi juga demi kenyamanan batin diri kita sendiri.
Aku mencoba berbagai macam diet. Ocd, karbo, dll. Tapi belum berhasil. Sebagai catatan, aku bukan ahli gizi, bukan dokter, nggak punya background apa apa, aku hanya mau sharing berbagi masukan berdasarkan pengalamanku sendiri. Masing masing orang butuh asupan yang berbeda setiap harinya. Buat aku, belum ada dari antara semua diet itu yang berhasil dengan sempurna, bisa mengurangi beratku dengan cepat dan mudah (mungkin operasi sedot lemak, tapi belom pernah coba sih).

Saat ini aku sedang dalam diet tradisional. Bukan, bukan diet sambil pakai kebaya dan jaipongan, tapi diet biasa yang umum dilakukan orang banyak. Yaitu, mengurangi makan. Logika simpelnya, apa yang masuk, itulah yang harus dikeluarkan. Kalau pemasukan banyak, pengeluaran sedikit, tentunya kita akan kaya. Atau dalam kasus ini, kaya lemak. Menurut aku, dari semua diet yang pernah kucoba, yang ini memang yang paling mudah dan gampang.
Minggu lalu, aku melakukan riset kecil-kecilan. Narasumbernya sekadar teman teman, keluarga, dan kenalan, yang mempunyai berat ideal (menurutKU dan bukan menurut si BMI –bleh). Dan dari situ aku mendapat sedikit pembenaran untuk diet yang sering kulakukan ini. Hampir semua dari mereka, makhluk makhluk kurus itu, memiliki kesamaan yang unik untuk pola makan. Kalian bisa mendapat penjelasan yang lebih ilmiah untuk ini, tapi disini aku akan menjelaskan dengan bahasa awam.
Mereka, para OK (orang kurus), makan dalam porsi KECIL. Yak. Benar sekali. Sok banget lu cier bilang riset riset segala. Itu doang mah nenek nenek disko juga tau. Tapi buat aku, ini adalah suatu pencerahan. Dan kesamaan lagi, kebanyakan dari teman teman saya yang OK ini, mereka suka sekali menyombongkan diri kalau mereka ini makannya BANYAK. Omong kosong sekali, kataku dalam hati. 
Kalau diingat ingat lagi semasa kuliah dulu, melihat mereka OK yang suka bilang kalau mereka makannya banyak, mereka makannya nggak banyak sama sekali. Makan bakso di kantin, porsi kita sama. Makan prasmanan ambil nasi sendiri, nasi yang kuambil selalu jauuh lebih banyak. Belum lagi waktu kita jajan. Mereka beli air minum tok, aku beli snack, roti, dan macam macam. Mereka makan banyak dari mananya coba?

bakso maknyus
bakso penggagal diet

Begitu ditanya, ternyata maksud mereka adalah makan SERING, bukan makan BANYAK. Teman OK ini bilang, kalau dia sering sekali makan/kepingin makan. Sedikit sedikit pingin makan batagor, lalu makan. Bentar lagi bakso. Bentar lagi ikan bakar. Bentar lagi nyemil gorengan.  Tapi yang mereka makan setiap kali adalah dalam jumlah kecil, atau kalau dalam porsi tertentu ,misal sewaktu makan di restoran, mereka hanya makan sebagian dan bukan semuanya. Lalu sisa makanannya? Selalu, suami dia yang habiskan. Sisa makanannya, anak2nya, semua makanan yang dia beli, kebanyakan hanya beberapa gigitan dimakan, sisanya semua dihabiskan suaminya. Yang klaim makan banyak siapa yang gemuk siapa. Indeed, suaminya si OK ini yang malah overweight ngga ketulungan karena bukan hanya setiap makan porsi dia besar, tetapi dia juga harus (dianya juga mau sih) habiskan makanan istrinya. Beberapa teman OK yang lain kasusnya ada juga yang sedikit berbeda. Tapi satu kesamaan mereka adalah, jumlah makan mereka rata rata lebih banyak dalam sehari daripada aku yang katanya diet ini. Aneh?
Daripada pusing, akupun mencoba langsung ‘diet’ ini. Karena aku bukan orang pagi, aku jarang sarapan. Jadi buat orang biasa yang makan normal 3x sehari, aku hanya makan nasi 2x sehari. Kalau waktu pagi lapar, aku hanya makan biscuit atau roti, dan buah buahan. Dalam diet ini aku mau membiasakan mengurangi snack. Jadi yang biasanya aku makan nggak ngira2 berapa bungkus, kali ini aku hanya makan sepotong atau dua potong crackers, misalnya. Kalau benar benar lapar, aku akan makan nasi dengan apa saja yang ada dirumah. Ikan, Daging, apapun! Hanya saja jumlahnya dikurangi. Biasanya aku makan dengan nasi sepiring penuh, sekarang hanya makan 1/5 nya, karena dalam pikiranku, aku akan makan lebih sering hari ini, jadi sekali ambil nasi, jumlahnya jadi jauh lebih sedikit. Rasanya bener bener ngga kaya diet. Aku berusaha mengurangi nasi dan memperbanyak lauk dan sayur. Sejauh ini, aku belum pernah merasa tersiksa kekurangan makanan seperti diet diet aku yang sebelumnya. Aku masih bisa makan makanan dengan menu seperti biasa, nyemil snack favorit, sama sekali nggak menginjak gym/treadmill, semua bebas cuma jumlahnya saja yang dikontrol . Dan aku sudah turun hampir 2kilogram kurang dari seminggu! Mungkin untuk maintain supaya jadi kebiasaan kedepannya akan lebih susah, tapi sekali aku terbiasa seumur hidup, aku akan masuk daftar OK! (fingers crossed!)

Untuk kalian mungkin cara ini bisa berhasil atau mungkin juga nggak. Yang paling penting adalah menemukan cara yang paling cocok dan nyaman buat diri kita sendiri untuk dijadikan kebiasaan. Mungkin setelah ini aku bakal nemuin cara yang lebih baik dan lebih cocok, who knows? Yang paling penting jangan pernah menyerah buat mencoba hal-hal baru selama itu sehat dan dalam batas kewajaran, ceritain dan minta pendapat orang terdekat, teman, pacar, atau orangtua. Dukungan dari yang tersayang itu bener bener membantu loh. Kalau gak punya..er..  kita saling menyemangati aja ya :’D

Let’s get in shape!